Multiple myeloma adalah salah satu jenis kanker darah yang mungkin tidak sepopuler leukemia atau limfoma, namun tetap menjadi masalah kesehatan serius di seluruh dunia.
Di Amerika Serikat saja, lebih dari 34.000 orang diperkirakan akan menerima diagnosis ini setiap tahunnya.
Meski termasuk kanker darah “relatif jarang,” multiple myeloma tetap memengaruhi sekitar 0,8% pria dan wanita sepanjang hidup mereka.
Walaupun penyakit ini belum dapat disembuhkan, kemajuan medis memberikan banyak harapan melalui beragam metode pengobatan modern.
Untuk memahami bagaimana penyakit ini berkembang dan bagaimana penanganannya, mari kita telusuri lebih dalam penyebab, gejala, diagnosis, dan terapi yang tersedia.
Apa Itu Multiple Myeloma?
Multiple myeloma bermula dari sel plasma – jenis sel darah putih yang bertugas menciptakan antibodi untuk melawan infeksi. Normalnya, sel plasma membantu menjaga tubuh tetap aman dari virus dan bakteri.
Namun pada multiple myeloma, sel plasma berubah menjadi sel kanker yang tumbuh tak terkendali di sumsum tulang.
Alih-alih membentuk antibodi normal, sel kanker menghasilkan protein monoklonal (protein M) yang justru dapat merusak tubuh.
Apa dampaknya bagi tubuh?
- Penumpukan protein M dalam darah dapat merusak ginjal.
- Sumsum tulang tidak dapat memproduksi sel darah normal dengan baik → menyebabkan anemia dan penurunan sistem imun.
- Sel myeloma mengeluarkan zat yang mempercepat penghancuran tulang, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Penyakit ini menyerang di beberapa area sekaligus, sehingga penanganannya harus menyeluruh dan berkelanjutan.
Penyebab Multiple Myeloma (Mengapa Bisa Terjadi?)

Sampai saat ini, belum ada penyebab pasti mengapa seseorang mengembangkan multiple myeloma.
Namun penelitian menemukan beberapa faktor risiko yang berkaitan erat dengan meningkatnya peluang terkena penyakit ini.
1. Usia
Meskipun bisa terjadi pada siapa saja, sebagian besar pasien berusia 60 tahun ke atas. Penyakit ini hampir tidak pernah muncul pada usia muda.
2. Jenis Kelamin
Pria memiliki peluang sedikit lebih tinggi dibanding wanita.
3. Ras atau Keturunan
Orang keturunan Afrika-Amerika memiliki risiko hingga dua kali lebih tinggi terkena multiple myeloma.
4. Riwayat MGUS (Monoclonal Gammopathy of Undetermined Significance)
MGUS adalah kondisi non-kanker namun terkait erat dengan myeloma. Sekitar 1% pasien MGUS berkembang menjadi multiple myeloma setiap tahun.
5. Faktor Genetik dan Lingkungan
Meski belum terbukti sepenuhnya, paparan zat kimia tertentu, radiasi, atau riwayat keluarga juga diduga berperan.
Menariknya, banyak pasien tidak memiliki faktor risiko jelas – menunjukkan bahwa penyakit ini memang kompleks dan multifaktor.
Gejala Multiple Myeloma: Apa yang Harus Diwaspadai?
Gejala multiple myeloma sangat bervariasi. Tidak sedikit pasien yang tidak merasakan apapun pada tahap awal. Gejala sering kali samar dan mirip penyakit lain.
Berikut gejala yang paling umum:
1. Nyeri Tulang
Biasanya terjadi di punggung bawah, tulang rusuk, atau pinggul. Tulang bisa menjadi rapuh bahkan mengalami patah spontan.
2. Kelelahan Berlebihan
Anemia akibat sumsum tulang terganggu membuat tubuh kekurangan sel darah merah.
3. Infeksi Berulang
Sel myeloma menghambat produksi antibodi normal, sehingga tubuh lebih rentan terhadap virus dan bakteri.
4. Gangguan Pencernaan dan Nafsu Makan
Mual, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, hingga sembelit bisa terjadi terutama jika kadar kalsium meningkat.
5. Rasa Haus Berlebih
Hiperkalsemia (kalsium tinggi) menyebabkan dehidrasi, kebingungan, dan gangguan fungsi ginjal.
6. Kabut Mental atau Kebingungan
Ini dapat terjadi akibat masalah ginjal atau kadar kalsium yang terlalu tinggi. Jika gejala-gejala ini muncul bersamaan, segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Bagaimana Multiple Myeloma Dideteksi?

Mendeteksi multiple myeloma tidak bisa hanya dengan satu tes. Biasanya dokter memadukan beberapa metode untuk mengonfirmasi diagnosis.
1. Tes Darah
Untuk mendeteksi:
- Protein M
- Tingkat kalsium
- Fungsi ginjal
- Sel darah merah, putih, dan trombosit
2. Tes Urin
Mengecek apakah ada protein M (sering disebut protein Bence Jones).
3. Biopsi Sumsum Tulang
Cara paling akurat untuk melihat apakah ada sel myeloma di sumsum tulang.
4. Tes Pencitraan
Termasuk:
- CT Scan
- MRI
- PET Scan
- Rontgen (X-ray)
Tujuannya adalah melihat apakah tulang mengalami kerusakan atau lesi akibat sel myeloma.
Diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan tahap penyakit dan memilih terapi terbaik.
Pilihan Pengobatan Multiple Myeloma
Kabar baiknya: banyak sekali pilihan pengobatan yang tersedia – dan terus berkembang.
Jenis pengobatan yang digunakan tergantung:
- Tahap penyakit
- Kondisi kesehatan umum
- Gejala yang muncul
- Tingkat agresivitas kanker
Dalam beberapa kasus, dokter memilih pendekatan “tunggu dan lihat”, terutama jika penyakit masih sangat awal dan tidak menimbulkan gejala.
Berikut pilihan pengobatan yang paling umum:
1. Kemoterapi
Menyerang sel kanker yang aktif membelah. Diberikan dalam bentuk pil atau infus. Biasanya digunakan bersama terapi lain.
2. Terapi yang Ditargetkan (Targeted Therapy)
Obat cerdas ini mencari dan menyerang sel kanker dengan lebih selektif sehingga efek ke sel sehat lebih minimal.
3. Terapi Biologis / Imunoterapi
Menggunakan sistem imun tubuh Anda sendiri untuk menyerang sel myeloma. Ini termasuk antibodi monoklonal modern yang menunjukkan hasil menjanjikan.
4. Transplantasi Sel Induk (Stem Cell Transplant)
Mengganti sumsum tulang yang rusak dengan sel sehat dari tubuh sendiri atau donor. Biasanya dilakukan setelah kemoterapi dosis tinggi.
5. Terapi Radiasi
Digunakan untuk mengatasi nyeri lokal akibat kerusakan tulang atau menghancurkan tumor di area tertentu.
6. Perawatan Pendukung
Mengatasi masalah yang muncul akibat penyakit, seperti:
- Anemia
- Keropos tulang
- Gangguan ginjal
- Infeksi berulang
Perawatan pendukung sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Multiple myeloma adalah penyakit serius yang memengaruhi sumsum tulang, sistem imun, tulang, dan ginjal. Meski belum dapat disembuhkan, kemajuan pengobatan memungkinkan pasien hidup lebih lama dan lebih nyaman.
Kunci pentingnya adalah:
- Mengenali gejala sejak dini
- Melakukan diagnosis lengkap
- Menjalani pengobatan sesuai rekomendasi dokter
- Menjaga kondisi tubuh dan mental tetap stabil
Semakin Anda memahami penyakit ini, semakin besar peluang untuk mengendalikan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.






